Confucious (551 BC – 478 BC) bukanlah seorang tokoh agama melainkan seorang moralis atau tokoh moral. Suatu ketika ia pergi ke kota untuk sebuah keperluan. Di tengah aktifitas tersebut ia diberitahu seseorang bahwa kandang kudanya terbakar dan diminta segera pulang.
Confucious bergegas pulang. Sesampainya di rumah ia langsung bertanya, “Apakah ada orang yang cedera?” Ia sama sekali tidak menanyakan bagaimana keadaan kuda-kudanya.Sikap Confucious menunjukkan bahwa ia lebih menghargai nyawa manusia dibandingkan harta bendanya. Confucious benar-benar mempesona semua orang yang datang membantu meredakan api kebakaran tersebut. Mereka sangat terkesan pada kepribadian Confucious. Sehingga ia dikenal sebagai tokoh moralis yang sangat menghargai keberadaan manusia lainnya.
Pesan :
Nilai moral kemanusiaan adalah menghargai jiwa manusia. Dalam semua hukum agama maupun negara pasti memiliki hukum yang mengatur perlindungan terhadap jiwa manusia. Hal itu menunjukkan betapa penting peran nilai moral kemanusiaan dalam berbagai aktifitas kehidupan kita.
Keunggulan pribadi seseorang akan sangat berpengaruh terhadap karisma dan kesuksesannya. Seberapa besar nilai moral kemanusiaan yang ia miliki mencerminkan kepribadian yang sebenarnya, terutama dalam tutur kata dan perbuatan di masa kritis atau pada saat kepentingan umum sedang terancam. “Pada saat kita mengalami masa paling kritis dalam hidup ini, dari situlah kita paling mudah untuk melihat kewibawaan seseorang,” terang William Shakespeare.
Memupuk nilai kemanusiaan di dalam diri kita dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran bahwa Tuhan YME telah menciptakan dunia dengan segala isinya hanya untuk kebaikan manusia. Meningkatkan kesadaran bahwa masing-masing diantara kita pada dasarnya saling melengkapi dan membutuhkan. Dengan demikian kita akan berusaha menyayangi dan menghargai orang-orang di sekitar kita bahkan pesaing kita sekalipun.
Thursday, April 21, 2011
Wednesday, March 16, 2011
"Kesombongan Seorang Penulis Terkenal"

Dikisahkan tentang seorang penulis terkenal di Eropa. Sebelumnya penulis itu hanya orang miskin yang selalu hidup serba terbatas. Tetapi berkat ketekunan dan kerja kerasnya, ia mampu menciptakan karya-karya mengagumkan. Dalam waktu cukup singkat namanya terkenal di seantero negri.Tetapi hampir semua rekan-rekan dan orang-orang yang sebelumnya dekat dengannya menyayangkan perubahan sikap penulis tersebut. Penulis tersebut benar-benar sudah melupakan asal-usul, sikapnya sombong atau terlalu membanggakan kekayaan dan kepopulerannya. Tak hanya itu, ia semakin tidak peduli terhadap keadaan orang-orang di sekelilingnya dulu yang masih terhimpit kemiskinan.
Suatu hari, seorang wanita tua mendekati penulis tersebut. Wanita itu memohon pendapat penulis tersebut tentang isi sebuah buku catatan. “Menurut Bapak, apakah tulisan anak ini bagus?” tanya wanita tua itu sembari menyerahkan sebuah buku catatan lusuh.
Si penulis menerima buku catatan tersebut tanpa memandang wanita tua itu. “Apakah ini buku catatan anak Ibu?” tanya penulis tersebut.
“Bukan!” jawab wanita tua singkat.
“Kamu kakaknya?” tanya penulis itu ketus.
“Bukan. Saya adalah gurunya,” kata wanita tersebut sambil tersenyum bangga.
“Ah, tulisan seperti ini sangat jelek, mirip cakar ayam. Sama sekali tidak bisa dibaca. Saya tidak yakin anak ini kelak akan berhasil,” kata penulis terkenal itu tak acuh.
Wanita tua tersebut hanya tersenyum sambil menerima buku catatan itu dari tangan si penulis. Tak nampak gurat kemarahan sama sekali atas komentar pedas si penulis. Kemudian dia berkata, “Sebenarnya buku ini adalah buku catatanmu waktu masih kecil. Tidakkah kamu ingat saat itu kamu adalah murid saya?”
Penulis terkenal itu tertegun sejenak. Ia segera meraih buku itu, kemudian memperhatikan baik-baik tulisan didalamnya. Setelah cukup mengenali itu adalah tulisan miliknya, wajah penulis tersebut memerah pertanda malu. Kejadian itu benar-benar spesial karena si penulis terkenal mengubah prilaku sombongnya. Sejak saat itu ia juga dikenal sebagai orang yang rendah hati, baik tutur katanya dan ringan tangan membantu siapapun yang memerlukan bantuan.
Pesan :
Dalam kisah di atas kita dapat merasakan bahwa kesuksesan sesungguhnya tak dapat diukur berdasarkan kemajuan dari segi materi semata, melainkan juga kemuliaan sikap. Seharusnya kesuksesan semakin membuat kita berhati-hati dalam bersikap agar tidak terjerembab dalam kesombongan. Karena bila kita sombong sama seperti menggali lubang kuburan kita sendiri.
Kita sendiri cukup sering lupa diri, karena merasa paling baik, paling pintar, dan lain sebagainya. Tak jarang kita memandang orang lain lebih rendah, lebih buruk, lebih jelek, atau pandangan-pandangan semacamnya. Padahal jika direnungkan, kita tidak lebih baik dibandingkan mereka.
Bila penulis terkenal itu mendapatkan sebuah kejadian yang membuatnya malu hingga kembali bersikap rendah hati, lalu apakah kita menunggu sebuah pukulan keras dari Tuhan YME agar kita sadar dan kembali bersikap rendah hati? Sekaranglah saatnya kita berbenah bersama. Jangan pernah merasa lebih baik dari yang lain atau mengabaikan peran orang lain, karena mereka bisa jadi punya andil yang sangat besar dan mendukung keberhasilan kita.
Wanita pemerah susu dan anak gadisnya.
Pada zaman pemerintahan Umar bin Khaththab hiduplah seorang janda miskin bersama
seorang anak gadisnya di sebuah gubuk tua di pinggiran kota Mekah. Keduanya sangat rajin
beribadah dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Setiap pagi,
selesai salat subuh, keduanya memerah susu kambing di kandang. Penduduk kota Mekah
banyak yang menyukai susu kambing wanita itu karena mutunya yang baik.
Pada suatu malam, Khalifah Umar ditemani pengawalnya berkeliling negeri untuk melihat dari
dekat keadaan hidup dan kesejahteraan rakyatnya. Setelah beberapa saat berkeliling,
sampailah khalifah di pinggiran kota Mekah. Beliau tertarik melihat sebuah gubuk kecil
dengan cahaya yang masih tampak dari dalamnya yang menandakan bahwa penghuninya belum
tidur. Khalifah turun dari kudanya, lalu mendekati gubuk itu. Samar-samar telinganya
mendengar percakapan seorang wanita dengan anaknya.
"Anakku, malam ini kambing kita hanya mengeluarkan susu sedikit sekali. Ini tidak cukup
untuk memenuhi permintaan pelanggan kita besok pagi," keluh wanita itu kepada anaknya.
Dengan tersenyum, anak gadisnya yang beranjak dewasa itu menghibur, "Ibu, tidak usah
disesali. Inilah rezeki yang diberikan Allah kepada kita hari ini. Semoga besok kambing kita
mengeluarkan susu yang lebih banyak lagi."
"Tapi, aku khawatir para pelanggan kita tidak mau membeli susu kepada kita lagi. Bagaimana
kalau susu itu kita campur air supaya kelihatan banyak?"
"Jangan, Bu!" gadis itu melarang. "Bagaimanapun kita tidak boleh berbuat curang. Lebih baik
kita katakan dengan jujur pada pelanggan bahwa hasil susu hari ini hanya sedikit. Mereka
tentu akan memakluminya. Lagi pula kalau ketahuan, kita akan dihukum oleh Khalifah Umar.
Percayalah, ketidakjujuran itu akan menyiksa hati."
Dari luar gubuk itu, Khalifah Umar semakin penasaran ingin terus mendengar kelanjutan
percakapan antara janda dan anak gadisnya itu.
"Bagaimana mungkin khalifah Umar tahu!" kata janda itu kepada anaknya. "Saat ini beliau
sedang tertidur pulas di istananya yang megah tanpa pernah mengalami kesulitan seperti kita
ini?"
Melihat ibunya masih tetap bersikeras dengan alasannya, gadis remaja itu tersenyum dengan
lembut dan berkata, "Ibu, memang Khalifah tidak melihat apa yang kita lakukan sekarang.
Tapi Allah Maha Melihat setiap gerak-gerik makhluknya. Meskipun kita miskin, jangan sampai
kita melakukan sesuatu yang dimurkai Allah."
Dari luar gubuk, khalifah tersenyum mendengar ucapan gadis itu. Beliau benar-benar kagum
dengan kejujurannya. Ternyata kemiskinan dan himpitan keadaan tidak membuatnya
terpengaruh untuk berbuat curang. Setelah itu khalifah mengajak pengawalnya pulang.
Keesokan harinya, Umar memerintahkan beberapa orang untuk menjemput wanita pemerah
susu dan anak gadisnya untuk menghadap kepadanya. Beliau ternyata bermaksud menikahkan
putranya dengan gadis jujur itu.
Sungguh sebuah teladan bagi kita semua, bahwa kejujuran karena takut kepada Allah adalah
suatu harta yang tak ternilai harganya. Mungkin ini yang sulit kita dapatkan sekarang.
seorang anak gadisnya di sebuah gubuk tua di pinggiran kota Mekah. Keduanya sangat rajin
beribadah dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Setiap pagi,
selesai salat subuh, keduanya memerah susu kambing di kandang. Penduduk kota Mekah
banyak yang menyukai susu kambing wanita itu karena mutunya yang baik.
Pada suatu malam, Khalifah Umar ditemani pengawalnya berkeliling negeri untuk melihat dari
dekat keadaan hidup dan kesejahteraan rakyatnya. Setelah beberapa saat berkeliling,
sampailah khalifah di pinggiran kota Mekah. Beliau tertarik melihat sebuah gubuk kecil
dengan cahaya yang masih tampak dari dalamnya yang menandakan bahwa penghuninya belum
tidur. Khalifah turun dari kudanya, lalu mendekati gubuk itu. Samar-samar telinganya
mendengar percakapan seorang wanita dengan anaknya.
"Anakku, malam ini kambing kita hanya mengeluarkan susu sedikit sekali. Ini tidak cukup
untuk memenuhi permintaan pelanggan kita besok pagi," keluh wanita itu kepada anaknya.
Dengan tersenyum, anak gadisnya yang beranjak dewasa itu menghibur, "Ibu, tidak usah
disesali. Inilah rezeki yang diberikan Allah kepada kita hari ini. Semoga besok kambing kita
mengeluarkan susu yang lebih banyak lagi."
"Tapi, aku khawatir para pelanggan kita tidak mau membeli susu kepada kita lagi. Bagaimana
kalau susu itu kita campur air supaya kelihatan banyak?"
"Jangan, Bu!" gadis itu melarang. "Bagaimanapun kita tidak boleh berbuat curang. Lebih baik
kita katakan dengan jujur pada pelanggan bahwa hasil susu hari ini hanya sedikit. Mereka
tentu akan memakluminya. Lagi pula kalau ketahuan, kita akan dihukum oleh Khalifah Umar.
Percayalah, ketidakjujuran itu akan menyiksa hati."
Dari luar gubuk itu, Khalifah Umar semakin penasaran ingin terus mendengar kelanjutan
percakapan antara janda dan anak gadisnya itu.
"Bagaimana mungkin khalifah Umar tahu!" kata janda itu kepada anaknya. "Saat ini beliau
sedang tertidur pulas di istananya yang megah tanpa pernah mengalami kesulitan seperti kita
ini?"
Melihat ibunya masih tetap bersikeras dengan alasannya, gadis remaja itu tersenyum dengan
lembut dan berkata, "Ibu, memang Khalifah tidak melihat apa yang kita lakukan sekarang.
Tapi Allah Maha Melihat setiap gerak-gerik makhluknya. Meskipun kita miskin, jangan sampai
kita melakukan sesuatu yang dimurkai Allah."
Dari luar gubuk, khalifah tersenyum mendengar ucapan gadis itu. Beliau benar-benar kagum
dengan kejujurannya. Ternyata kemiskinan dan himpitan keadaan tidak membuatnya
terpengaruh untuk berbuat curang. Setelah itu khalifah mengajak pengawalnya pulang.
Keesokan harinya, Umar memerintahkan beberapa orang untuk menjemput wanita pemerah
susu dan anak gadisnya untuk menghadap kepadanya. Beliau ternyata bermaksud menikahkan
putranya dengan gadis jujur itu.
Sungguh sebuah teladan bagi kita semua, bahwa kejujuran karena takut kepada Allah adalah
suatu harta yang tak ternilai harganya. Mungkin ini yang sulit kita dapatkan sekarang.
Al-balqi dan si burung pincang
Alkisah, hiduplah pada zaman dahulu seorang yang terkenal dengan kesalehannya, bernama al-
Balkhi. Ia mempunyai sahabat karib yang bernama Ibrahim bin Adham yang terkenal sangat
zuhud. Orang sering memanggil Ibrahim bin Adham dengan panggilan Abu Ishak.
Pada suatu hari, al-Balkhi berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat,
tidak ketinggalan ia berpamitan kepada sahabatnya itu. Namun belum lama al-Balkhi
meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia datang lagi. Sahabatnya menjadi heran, mengapa ia
pulang begitu cepat dari yang direncanakannya. Padahal negeri yang ditujunya sangat jauh
lokasinya. Ibrahim bin Adham yang saat itu berada di masjid langsung bertanya kepada al-
Balkhi, sahabatnya. "Wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau pulang begitu cepat?"
"Dalam perjalanan", jawab al-Balkhi, "aku melihat suatu keanehan, sehingga aku memutuskan
untuk segera membatalkan perjalanan".
"Keanehan apa yang kamu maksud?" tanya Ibrahim bin Adham penasaran.
"Ketika aku sedang beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak", jawab al-Balkhi
menceritakan, "aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Aku pun kemudian
bertanya-tanya dalam hati. "Bagaimana burung ini bisa bertahan hidup, padahal ia berada di
tempat yang jauh dari teman-temannya, matanya tidak bisa melihat, berjalan pun ia tak bisa".
"Tidak lama kemudian", lanjut al-Balkhi, "ada seekor burung lain yang dengan susah payah
menghampirinya sambil membawa makanan untuknya. Seharian penuh aku terus
memperhatikan gerak-gerik burung itu. Ternyata ia tak pernah kekurangan makanan, karena
ia berulangkali diberi makanan oleh temannya yang sehat".
"Lantas apa hubungannya dengan kepulanganmu?" tanya Ibrahim bin Adham yang belum
mengerti maksud kepulangan sahabat karibnya itu dengan segera.
"Maka aku pun berkesimpulan", jawab al-Balkhi seraya bergumam, "bahwa Sang Pemberi Rizki
telah memberi rizki yang cukup kepada seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari
teman-temannya. Kalau begitu, Allah Maha Pemberi, tentu akan pula mencukupkan rizkiku
sekali pun aku tidak bekerja". Oleh karena itu, aku pun akhirnya memutuskan untuk segera
pulang saat itu juga".
Mendengar penuturan sahabatnya itu, Ibrahim bin Adham berkata, "wahai al-Balkhi
sahabatku, mengapa engkau memiliki pemikiran serendah itu? Mengapa engkau rela
mensejajarkan derajatmu dengan seekor burung pincang lagi buta itu? Mengapa kamu
mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup dari belas kasihan dan bantuan orang lain? Mengapa
kamu tidak berpikiran sehat untuk mencoba perilaku burung yang satunya lagi? Ia bekerja
keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan hidup sahabatnya yang memang
tidak mampu bekerja? Apakah kamu tidak tahu, bahwa tangan di atas itu lebih mulia daripada
tangan di bawah?"
Al-Balkhi pun langsung menyadari kekhilafannya. Ia baru sadar bahwa dirinya salah dalam
mengambil pelajaran dari kedua burung tersebut. Saat itu pulalah ia langsung bangkit dan
mohon diri kepada Ibrahim bin Adham seraya berkata, "wahai Abu Ishak, ternyata engkaulah
guru kami yang baik". Lalu berangkatlah ia melanjutkan perjalanan dagangnya yang sempat
tertunda.
Dari kisah ini, mengingatkan kita semua pada hadits yang diriwayatkan dari Miqdam bin
Ma'dikarib radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah
bersabda, yang artinya: "Tidak ada sama sekali cara yang lebih baik bagi seseorang untuk
makan selain dari memakan hasil karya tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud
'alaihis salam makan dari hasil jerih payahnya sendiri" (HR. Bukhari).
Balkhi. Ia mempunyai sahabat karib yang bernama Ibrahim bin Adham yang terkenal sangat
zuhud. Orang sering memanggil Ibrahim bin Adham dengan panggilan Abu Ishak.
Pada suatu hari, al-Balkhi berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat,
tidak ketinggalan ia berpamitan kepada sahabatnya itu. Namun belum lama al-Balkhi
meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia datang lagi. Sahabatnya menjadi heran, mengapa ia
pulang begitu cepat dari yang direncanakannya. Padahal negeri yang ditujunya sangat jauh
lokasinya. Ibrahim bin Adham yang saat itu berada di masjid langsung bertanya kepada al-
Balkhi, sahabatnya. "Wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau pulang begitu cepat?"
"Dalam perjalanan", jawab al-Balkhi, "aku melihat suatu keanehan, sehingga aku memutuskan
untuk segera membatalkan perjalanan".
"Keanehan apa yang kamu maksud?" tanya Ibrahim bin Adham penasaran.
"Ketika aku sedang beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak", jawab al-Balkhi
menceritakan, "aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Aku pun kemudian
bertanya-tanya dalam hati. "Bagaimana burung ini bisa bertahan hidup, padahal ia berada di
tempat yang jauh dari teman-temannya, matanya tidak bisa melihat, berjalan pun ia tak bisa".
"Tidak lama kemudian", lanjut al-Balkhi, "ada seekor burung lain yang dengan susah payah
menghampirinya sambil membawa makanan untuknya. Seharian penuh aku terus
memperhatikan gerak-gerik burung itu. Ternyata ia tak pernah kekurangan makanan, karena
ia berulangkali diberi makanan oleh temannya yang sehat".
"Lantas apa hubungannya dengan kepulanganmu?" tanya Ibrahim bin Adham yang belum
mengerti maksud kepulangan sahabat karibnya itu dengan segera.
"Maka aku pun berkesimpulan", jawab al-Balkhi seraya bergumam, "bahwa Sang Pemberi Rizki
telah memberi rizki yang cukup kepada seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari
teman-temannya. Kalau begitu, Allah Maha Pemberi, tentu akan pula mencukupkan rizkiku
sekali pun aku tidak bekerja". Oleh karena itu, aku pun akhirnya memutuskan untuk segera
pulang saat itu juga".
Mendengar penuturan sahabatnya itu, Ibrahim bin Adham berkata, "wahai al-Balkhi
sahabatku, mengapa engkau memiliki pemikiran serendah itu? Mengapa engkau rela
mensejajarkan derajatmu dengan seekor burung pincang lagi buta itu? Mengapa kamu
mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup dari belas kasihan dan bantuan orang lain? Mengapa
kamu tidak berpikiran sehat untuk mencoba perilaku burung yang satunya lagi? Ia bekerja
keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan hidup sahabatnya yang memang
tidak mampu bekerja? Apakah kamu tidak tahu, bahwa tangan di atas itu lebih mulia daripada
tangan di bawah?"
Al-Balkhi pun langsung menyadari kekhilafannya. Ia baru sadar bahwa dirinya salah dalam
mengambil pelajaran dari kedua burung tersebut. Saat itu pulalah ia langsung bangkit dan
mohon diri kepada Ibrahim bin Adham seraya berkata, "wahai Abu Ishak, ternyata engkaulah
guru kami yang baik". Lalu berangkatlah ia melanjutkan perjalanan dagangnya yang sempat
tertunda.
Dari kisah ini, mengingatkan kita semua pada hadits yang diriwayatkan dari Miqdam bin
Ma'dikarib radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah
bersabda, yang artinya: "Tidak ada sama sekali cara yang lebih baik bagi seseorang untuk
makan selain dari memakan hasil karya tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud
'alaihis salam makan dari hasil jerih payahnya sendiri" (HR. Bukhari).
Agama Adalah Nasehat
عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْم الدَّارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ . قُلْنَا لِمَنْ ؟ قَالَ : لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ . [رواه البخاري ومسلم]
Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad Daari”Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda : Agama itu adalah Nasehat , Kami bertanya : Untuk Siapa ?, Beliau bersabda : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim”
HR. Muslim
Penjelasan:
Tamim Ad Daari hanya meriwayatkan hadits ini, kata nasihat merupakan sebuah kata singkat penuh isi, maksudnya ialah segala hal yang baik. Dalam bahasa arab tidak ada kata lain yang pengertiannya setara dengan kata nasihat, sebagaimana disebutkan oleh para ulama bahasa arab tentang kata Al Fallaah yang tidak memiliki padanan setara, yang mencakup makna kebaikan dunia dan akhirat.
Kalimat, “Agama adalah Nasihat” maksudnya adalah sebagai tiang dan penopang agama, sebagaimana sabda Rasulullah, “Haji adalah arafah”, maksudnya wukuf di arafah adalah tiang dan bagian terpenting haji.
Tentang penafsiran kata nasihat dan berbagai cabangnya, Khathabi dan ulama-ulama lain mengatakan :
1. Nasihat untuk Allah : maksudnya beriman semata-mata kepada-Nya, menjauhkan diri dari syirik dan sikap ingkar terhadap sifat-sifat-Nya, memberikan kepada Allah sifat-sifat sempurna dan segala keagungan, mensucikan-Nya dari segala sifat kekurangan, menaati-Nya, menjauhkan diri dari perbuatan dosa, mencintai dan membenci sesuatu semata karena-Nya, berjihad menghadapi orang-orang kafir, mengakui dan bersyukur atas segala nikmat-Nya, berlaku ikhlas dalam segala urusan, mengajak melakukan segala kebaikan, menganjurkan orang berbuat kebaikan, bersikap lemah lembut kepada sesama manusia. Khathabi berkata : “Secara prinsip, sifat-sifat baik tersebut, kebaikannya kembali kepada pelakunya sendiri, karena Allah tidak memerlukan kebaikan dari siapapun”
2. Nasihat untuk kitab-Nya : maksudnya beriman kepada firman-firman Allah dan diturunkan-Nya firman-firman itu kepada Rasul-Nya, mengakui bahwa itu semua tidak sama dengan perkataan manusia dan tidak pula dapat dibandingkan dengan perkataan siapapun, kemudian menghormati firman Allah, membacanya dengan sungguh-sungguh, melafazhkan dengan baik dengan sikap rendah hati dalam membacanya, menjaganya dari takwilan orang-orang yang menyimpang, membenarkan segala isinya, mengikuti hokum-hukumnya, memahami berbagai macam ilmunya dan kalimat-kalimat perumpamaannya, mengambilnya sebagai pelajaran, merenungkan segala keajaibannya, mengamalkan dan menerima apa adanya tentang ayat-ayat mutasyabih, mengkaji ayat-ayat yang bersifat umum, dan mengajak manusia pada hal-hal sebagaimana tersebut diatas dan menimani Kitabullah
3. Nasihat untuk Rasul-Nya : maksudnya membenarkan ajaran-ajarannya, mengimani semua yang dibawanya, menaati perintah dan larangannya, membelanya semasa hidup maupun setelah wafat, melawan para musuhnya, membela para pengikutnya, menghormati hak-haknya, memuliakannya, menghidupkan sunnahnya, mengikuti seruannya, menyebarluaskan tuntunannya, tidak menuduhnya melakukan hal yang tidak baik, menyebarluaskan ilmunya dan memahami segala arti dari ilmu-ilmunya dan mengajak manusia pada ajarannya, berlaku santun dalam mengajarkannya, mengagungkannya dan berlaku baik ketika membaca sunnah-sunnahnya, tidak membicarakan sesuatu yang tidak diketahui sunnahnya, memuliakan para pengikut sunnahnya, meniru akhlak dan kesopanannya, mencintai keluarganya, para sahabatnya, meninggalkan orang yang melakukan perkara bid’ah dan orang yang tidak mengakui salah satu sahabatnya dan lain sebagainya.
4. Nasihat untuk para pemimpin umat islam : maksudnya menolong mereka dalam kebenaran, menaati perintah mereka dan memperingatkan kesalahan mereka dengan lemah lembut, memberitahu mereka jika mereka lupa, memberitahu mereka apa yang menjadi hak kaum muslim, tidak melawan mereka dengan senjata, mempersatukan hati umat untuk taat kepada mereka (tidak untuk maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya), dan makmum shalat dibelakang mereka, berjihad bersama mereka dan mendo’akan mereka agar mereka mendapatkan kebaikan.
5. Nasihat untuk seluruh kaum muslim : maksudnya memberikan bimbingan kepada mereka apa yang dapat memberikan kebaikan bagi merela dalam urusan dunia dan akhirat, memberikan bantuan kepada mereka, menutup aib dan cacat mereka, menghindarkan diri dari hal-hal yang membahayakan dan mengusahakan kebaikan bagi mereka, menyuruh mereka berbuat ma’ruf dan mencegah mereka berbuat kemungkaran dengan sikap santun, ikhlas dan kasih sayang kepada mereka, memuliakan yang tua dan menyayangi yang muda, memberikan nasihat yang baik kepada mereka, menjauhi kebencian dan kedengkian, mencintai sesuatu yang menjadi hak mereka seperti mencintai sesuatu yang menjadi hak miliknya sendiri, tidak menyukai sesuatu yang tidak mereka sukai sebagaimana dia sendiri tidak menyukainya, melindungi harta dan kehormatan mereka dan sebagainya baik dengan ucapan maupun perbuatan serta menganjurkan kepada mereka menerapkan perilaku-perilaku tersebut diatas. Wallahu a’lam
Memberi nasihat merupakan fardu kifayah, jika telah ada yang melaksanakannya, maka yang lain terlepas dari kewajiban ini. Hal ini merupakan keharusan yang dikerjakan sesuai kemampuan. Nasihat dalam bahasa arab artinya membersihkan atau memurnikan seperti pada kalimat nashahtul ‘asala artinya saya membersihkan madu hingga tersisa yang murni, namun ada juga yang mengatakan kata nasihat memiliki makna lain. Wallahu a’lam
Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad Daari”Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda : Agama itu adalah Nasehat , Kami bertanya : Untuk Siapa ?, Beliau bersabda : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim”
HR. Muslim
Penjelasan:
Tamim Ad Daari hanya meriwayatkan hadits ini, kata nasihat merupakan sebuah kata singkat penuh isi, maksudnya ialah segala hal yang baik. Dalam bahasa arab tidak ada kata lain yang pengertiannya setara dengan kata nasihat, sebagaimana disebutkan oleh para ulama bahasa arab tentang kata Al Fallaah yang tidak memiliki padanan setara, yang mencakup makna kebaikan dunia dan akhirat.
Kalimat, “Agama adalah Nasihat” maksudnya adalah sebagai tiang dan penopang agama, sebagaimana sabda Rasulullah, “Haji adalah arafah”, maksudnya wukuf di arafah adalah tiang dan bagian terpenting haji.
Tentang penafsiran kata nasihat dan berbagai cabangnya, Khathabi dan ulama-ulama lain mengatakan :
1. Nasihat untuk Allah : maksudnya beriman semata-mata kepada-Nya, menjauhkan diri dari syirik dan sikap ingkar terhadap sifat-sifat-Nya, memberikan kepada Allah sifat-sifat sempurna dan segala keagungan, mensucikan-Nya dari segala sifat kekurangan, menaati-Nya, menjauhkan diri dari perbuatan dosa, mencintai dan membenci sesuatu semata karena-Nya, berjihad menghadapi orang-orang kafir, mengakui dan bersyukur atas segala nikmat-Nya, berlaku ikhlas dalam segala urusan, mengajak melakukan segala kebaikan, menganjurkan orang berbuat kebaikan, bersikap lemah lembut kepada sesama manusia. Khathabi berkata : “Secara prinsip, sifat-sifat baik tersebut, kebaikannya kembali kepada pelakunya sendiri, karena Allah tidak memerlukan kebaikan dari siapapun”
2. Nasihat untuk kitab-Nya : maksudnya beriman kepada firman-firman Allah dan diturunkan-Nya firman-firman itu kepada Rasul-Nya, mengakui bahwa itu semua tidak sama dengan perkataan manusia dan tidak pula dapat dibandingkan dengan perkataan siapapun, kemudian menghormati firman Allah, membacanya dengan sungguh-sungguh, melafazhkan dengan baik dengan sikap rendah hati dalam membacanya, menjaganya dari takwilan orang-orang yang menyimpang, membenarkan segala isinya, mengikuti hokum-hukumnya, memahami berbagai macam ilmunya dan kalimat-kalimat perumpamaannya, mengambilnya sebagai pelajaran, merenungkan segala keajaibannya, mengamalkan dan menerima apa adanya tentang ayat-ayat mutasyabih, mengkaji ayat-ayat yang bersifat umum, dan mengajak manusia pada hal-hal sebagaimana tersebut diatas dan menimani Kitabullah
3. Nasihat untuk Rasul-Nya : maksudnya membenarkan ajaran-ajarannya, mengimani semua yang dibawanya, menaati perintah dan larangannya, membelanya semasa hidup maupun setelah wafat, melawan para musuhnya, membela para pengikutnya, menghormati hak-haknya, memuliakannya, menghidupkan sunnahnya, mengikuti seruannya, menyebarluaskan tuntunannya, tidak menuduhnya melakukan hal yang tidak baik, menyebarluaskan ilmunya dan memahami segala arti dari ilmu-ilmunya dan mengajak manusia pada ajarannya, berlaku santun dalam mengajarkannya, mengagungkannya dan berlaku baik ketika membaca sunnah-sunnahnya, tidak membicarakan sesuatu yang tidak diketahui sunnahnya, memuliakan para pengikut sunnahnya, meniru akhlak dan kesopanannya, mencintai keluarganya, para sahabatnya, meninggalkan orang yang melakukan perkara bid’ah dan orang yang tidak mengakui salah satu sahabatnya dan lain sebagainya.
4. Nasihat untuk para pemimpin umat islam : maksudnya menolong mereka dalam kebenaran, menaati perintah mereka dan memperingatkan kesalahan mereka dengan lemah lembut, memberitahu mereka jika mereka lupa, memberitahu mereka apa yang menjadi hak kaum muslim, tidak melawan mereka dengan senjata, mempersatukan hati umat untuk taat kepada mereka (tidak untuk maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya), dan makmum shalat dibelakang mereka, berjihad bersama mereka dan mendo’akan mereka agar mereka mendapatkan kebaikan.
5. Nasihat untuk seluruh kaum muslim : maksudnya memberikan bimbingan kepada mereka apa yang dapat memberikan kebaikan bagi merela dalam urusan dunia dan akhirat, memberikan bantuan kepada mereka, menutup aib dan cacat mereka, menghindarkan diri dari hal-hal yang membahayakan dan mengusahakan kebaikan bagi mereka, menyuruh mereka berbuat ma’ruf dan mencegah mereka berbuat kemungkaran dengan sikap santun, ikhlas dan kasih sayang kepada mereka, memuliakan yang tua dan menyayangi yang muda, memberikan nasihat yang baik kepada mereka, menjauhi kebencian dan kedengkian, mencintai sesuatu yang menjadi hak mereka seperti mencintai sesuatu yang menjadi hak miliknya sendiri, tidak menyukai sesuatu yang tidak mereka sukai sebagaimana dia sendiri tidak menyukainya, melindungi harta dan kehormatan mereka dan sebagainya baik dengan ucapan maupun perbuatan serta menganjurkan kepada mereka menerapkan perilaku-perilaku tersebut diatas. Wallahu a’lam
Memberi nasihat merupakan fardu kifayah, jika telah ada yang melaksanakannya, maka yang lain terlepas dari kewajiban ini. Hal ini merupakan keharusan yang dikerjakan sesuai kemampuan. Nasihat dalam bahasa arab artinya membersihkan atau memurnikan seperti pada kalimat nashahtul ‘asala artinya saya membersihkan madu hingga tersisa yang murni, namun ada juga yang mengatakan kata nasihat memiliki makna lain. Wallahu a’lam
Mata Hati
Bashirah sama artinya dengan akal, kecerdikan, saksi, argumentasi, penjelasan, atau petunjuk. Menurut istilah tashawuf, arti bashirah adalah hati yang diterangi oleh sinar kepastian yang tersembunyi dan tidak tampak, yakni daya kalbu yang mempunyai kemampuan melihat hakikat sesuatu karena mendapat sinar dari nuur (cahaya ketuhanan). Daya yang demikian disebut pula dengan istilah al-quwwah al-qudsiyyah (daya kesucian).
Seorang teolog Arab al-Jurjani (1340-1431) mengatakan ada pandangan mata kepala (bashar), dan ada pandangan mata hati (bashirah). Bila bashar adalah pandangan mata lahir yang hanya dapat melihat sesuatu yang bersifat material dan konkrit, maka bashirah adalah pandangan mata hati yang dapat melihat sesuatu secara spiritual dan abstrak. Seorang peneliti ilmu tashawuf, Nicholson, mengatakan bahwa, kaum sufi memandang Tuhan bagaikan sinar yang menerangi surga dan dunia, yang tidak terlihat oleh mata kepala manusia. la hanya terlihat oleh bashirah (mata hati), dan itulah hati yang diterangi oleh cahaya kepastian yang tersembunyi dan tidak pernah akan tampak oleh mata lahiriyah.
Ketika ada yang bertanya kepada Ali bin Abi Thalib: “Apakah engkau melihat Tuhan?” la menjawab: “Bagaimana kita dapat mengabdi kepada Yang Maha Esa kalau kita tidak dapat melihat-Nya”. Yang dimaksud di sini adalah bukan melihat-Nya dengan bashar, tetapi dengan bashirah.
Menurut kalangan kaum sufi, kebutaan mata hati seseorang sangat erat kaitannya dengan masalah dosa dan perasaan cinta kepada Tuhan. Orang yang senantiasa berupaya mendekatkan diri kepada Tuhan, akan dihapus dosa dari hatinya, dan dengan demikian mata hatinya lebih nyalang. Sebaliknya bagi orang yang senantiasa bergelimang dengan maksiat, hatinya akan semakin tertutup kepada kebenaran.
Al-Ghazali mengatakanbahwa, mata hati manusia laksana cermin. Jika dibersihkan terus menerus ia akan mengkilat dan dapat menangkap cahaya dan gambar yang ada dihadapannya. Sebaliknya jika dibiarkan kotor dan tidak pernah dibersihkan, ia tidak akan mampu menangkap cahaya dan gambar apapun di depannya. Akal manusia memang dapat memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya, namun kemampuan akal sangat terbatas dan penuh spekulasi sehingga tidak mungkin mencapai kebenaran yang sebenarnya.
Pembuktian rasional yang bersumber dari akal tidak lebih hanya berupa gerak pikiran dari suatu pengertian menuju pengertian lain, atau dari premis-premis menuju kesimpulan. Pengetahuan yang demikian, biasanya hanya mampu memberikan pengertian sesuatu tetapi tidak mampu melihat hakikat secara meyakinkan. Bagaimanapun kemampuan seseorang merangkai dalil atau menyusun kalimat, tanpa ada nuur yang menerangi hatinya itu hanya melahirkan ke-aku-an dan keangkuhan yang menghilangkan peran Tuhan pada dirinya.
Ibnu Arabi berpendapat bahwa, kekuatan mata hati akan bertambah kemampuannya apabila tidak banyak dipengaruhi oleh jiwa hewani yang ada dalam tubuh manusia, dan tidak banyak terkait dalam hal-hal yang bersifat material. Ketika mata hati sudah tidak banyak menerima pengaruh dunia (material) ia akan sanggup memandang langsung realitas sejati.
Abdul Karim bin Ibrahim al-Jili mengatakan bahwa, jiwa manusia berbeda dengan tubuhnya. Jiwa secara langsung berasal dari Tuhan sedangkan tubuh dijadikan dari sari tanah. Pada dasarnya sifat dan naluri hati itu adalah baik karena ia bersifat ilahiyah. Namun orang mengotorinya dengan berbuat dosa sehingga penuh noda hitam.
Terlepas pro dan kontra tentang pemaknaan bashirah, saat ini kita membutuhkan suatu pemahaman tentang makna hidup yang sesungguhnya, agar kita tidak tersesat menyikapi hidup di dunia sebagai jembatan menuju akhirat. Tatanan hidup yang telah digariskan al-Quran dan al-Sunnah tidak boleh dilanggar dalam bentuk apapun. Sebab sebesar dan sekecil apapun perbuatan akan mendapat imbalan. “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun niscaya dia menerima melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun niscaya ia akan menerima (balasan) nya pula“. (QS.Al-Zalzalah[99]:7-8).
Rasa harap dan rasa takut kepada Tuhan harus dialami sekaligus setiap berbuat sesuatu. Keduanya merupakan suasana batin yang dialami seseorang dalam aspek ke-Tuhanan manusia (lahut) dengan aspek kemanusiaan (nasut). Dengan perpaduan antara batin manusia dan pengawasan adanya Tuhan, manusia diharapkan senantiasa mempunyai kontrol yang efektif .untuk berbuat sesuatu. Pemahaman bahwa semua aktivitas kerja adalah amanah, merupakan pengendalian diri yang pada hakikatnya ia telah berada dalam naungan nuur yang terpancar dari mata hati yang sesungguhnya.
Untuk menjadikan seorang hamba yang mulia dengan hasil aktivitasnya, kontrol adalah senjata utama, dan kontrol yang paling terbaik adaah kesadaran jiwa.
Sumber : Buletin Mimbar jum’at No. 31 Th. XXII - 1 Agustus 2008
Seorang teolog Arab al-Jurjani (1340-1431) mengatakan ada pandangan mata kepala (bashar), dan ada pandangan mata hati (bashirah). Bila bashar adalah pandangan mata lahir yang hanya dapat melihat sesuatu yang bersifat material dan konkrit, maka bashirah adalah pandangan mata hati yang dapat melihat sesuatu secara spiritual dan abstrak. Seorang peneliti ilmu tashawuf, Nicholson, mengatakan bahwa, kaum sufi memandang Tuhan bagaikan sinar yang menerangi surga dan dunia, yang tidak terlihat oleh mata kepala manusia. la hanya terlihat oleh bashirah (mata hati), dan itulah hati yang diterangi oleh cahaya kepastian yang tersembunyi dan tidak pernah akan tampak oleh mata lahiriyah.
Ketika ada yang bertanya kepada Ali bin Abi Thalib: “Apakah engkau melihat Tuhan?” la menjawab: “Bagaimana kita dapat mengabdi kepada Yang Maha Esa kalau kita tidak dapat melihat-Nya”. Yang dimaksud di sini adalah bukan melihat-Nya dengan bashar, tetapi dengan bashirah.
Menurut kalangan kaum sufi, kebutaan mata hati seseorang sangat erat kaitannya dengan masalah dosa dan perasaan cinta kepada Tuhan. Orang yang senantiasa berupaya mendekatkan diri kepada Tuhan, akan dihapus dosa dari hatinya, dan dengan demikian mata hatinya lebih nyalang. Sebaliknya bagi orang yang senantiasa bergelimang dengan maksiat, hatinya akan semakin tertutup kepada kebenaran.
Al-Ghazali mengatakanbahwa, mata hati manusia laksana cermin. Jika dibersihkan terus menerus ia akan mengkilat dan dapat menangkap cahaya dan gambar yang ada dihadapannya. Sebaliknya jika dibiarkan kotor dan tidak pernah dibersihkan, ia tidak akan mampu menangkap cahaya dan gambar apapun di depannya. Akal manusia memang dapat memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya, namun kemampuan akal sangat terbatas dan penuh spekulasi sehingga tidak mungkin mencapai kebenaran yang sebenarnya.
Pembuktian rasional yang bersumber dari akal tidak lebih hanya berupa gerak pikiran dari suatu pengertian menuju pengertian lain, atau dari premis-premis menuju kesimpulan. Pengetahuan yang demikian, biasanya hanya mampu memberikan pengertian sesuatu tetapi tidak mampu melihat hakikat secara meyakinkan. Bagaimanapun kemampuan seseorang merangkai dalil atau menyusun kalimat, tanpa ada nuur yang menerangi hatinya itu hanya melahirkan ke-aku-an dan keangkuhan yang menghilangkan peran Tuhan pada dirinya.
Ibnu Arabi berpendapat bahwa, kekuatan mata hati akan bertambah kemampuannya apabila tidak banyak dipengaruhi oleh jiwa hewani yang ada dalam tubuh manusia, dan tidak banyak terkait dalam hal-hal yang bersifat material. Ketika mata hati sudah tidak banyak menerima pengaruh dunia (material) ia akan sanggup memandang langsung realitas sejati.
Abdul Karim bin Ibrahim al-Jili mengatakan bahwa, jiwa manusia berbeda dengan tubuhnya. Jiwa secara langsung berasal dari Tuhan sedangkan tubuh dijadikan dari sari tanah. Pada dasarnya sifat dan naluri hati itu adalah baik karena ia bersifat ilahiyah. Namun orang mengotorinya dengan berbuat dosa sehingga penuh noda hitam.
Terlepas pro dan kontra tentang pemaknaan bashirah, saat ini kita membutuhkan suatu pemahaman tentang makna hidup yang sesungguhnya, agar kita tidak tersesat menyikapi hidup di dunia sebagai jembatan menuju akhirat. Tatanan hidup yang telah digariskan al-Quran dan al-Sunnah tidak boleh dilanggar dalam bentuk apapun. Sebab sebesar dan sekecil apapun perbuatan akan mendapat imbalan. “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun niscaya dia menerima melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun niscaya ia akan menerima (balasan) nya pula“. (QS.Al-Zalzalah[99]:7-8).
Rasa harap dan rasa takut kepada Tuhan harus dialami sekaligus setiap berbuat sesuatu. Keduanya merupakan suasana batin yang dialami seseorang dalam aspek ke-Tuhanan manusia (lahut) dengan aspek kemanusiaan (nasut). Dengan perpaduan antara batin manusia dan pengawasan adanya Tuhan, manusia diharapkan senantiasa mempunyai kontrol yang efektif .untuk berbuat sesuatu. Pemahaman bahwa semua aktivitas kerja adalah amanah, merupakan pengendalian diri yang pada hakikatnya ia telah berada dalam naungan nuur yang terpancar dari mata hati yang sesungguhnya.
Untuk menjadikan seorang hamba yang mulia dengan hasil aktivitasnya, kontrol adalah senjata utama, dan kontrol yang paling terbaik adaah kesadaran jiwa.
Sumber : Buletin Mimbar jum’at No. 31 Th. XXII - 1 Agustus 2008
Prioritas Cinta
Menurut lndrawan WS dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Cinta itu adalah perasaan ingin dimiliki dan memiliki atau rasa rindu yang teramat dalam. Dalam Bahasa arab disebut Hubb atau Mahabbak.
Jadi pantas, jika seseorang jatuh cinta terhadap sesuatu maka ia pun rela berkorban dan berjuang untuk menggapainya. Namun cinta yang paling diprioritaskan adalah mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya Kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya diwujudkan dalam bentuk kepatuhan dan ketaatan yang tidak “neko-neko”.
Dalam hadits Qudsi Allah SWT berfirman: “Mereka yang berteman satu sama lainnya karena Aku, berhak memperoleh cinta-Ku, dan mereka yang saling membantu antara sesamanya karena Aku berhak memperoleh cinta-Ku. Dan tiadalah seorang meslimin laki-laki atau wanita berserah diri karena Allah atas kematian tiga orang dari anak kandungnya yang belum dewasa, pasti Allah memasukannya ke dalam surga yang dilimpahi karunia rahmat-Nya” (HR.Thabrani).
Mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya adalah paling mulia ketimbang yang lain, tetapi bukan berarti tidak bdeh mencintai sesuatu (selain Allah SWT). Sebab manusia ingin memiliki sesuatu dengan rasa cinta. Firman Allah SWT:
“Katakanlah: ‘Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, dan (dari) berjihad dijalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya’. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” (QS.At Taubah: 24).
Ayat ini menggambarkan kepada manusia, bagaimana menghadapi dan menyikapi kedelapan hal yang dicintai yaka Orangtua, anak-anak, isteri, saudara-saudara, keluarga, harta, perniagaan dan tempat tinggal.
Demikian juga dalam Al Qur’an Surat Ali Imran ayat 14: “Dijadikan indah pada (pandang-an) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga) “. Jika semua hal itu dicintai lebih dari pada Allah SWT dan Rasul-Nya serta jihad di jalan Allah maka tunggulah akibatnya. Juga diingatkan kepada manusia bahwa semua itu adalah merupakan kesenangan dunia, yang sifatnya sementara yang tidak bisa dibawa ke alam baqa. Di sisi Allah SWT-lah tempat kembali yang abadi.
Cinta Kepada Sesuatu
Jika seseorang cinta kepada sesuatu, maka ingatan dan pikirannya tertuju terhadap apa yang dicintainya itu. Lagi-lagi cinta memang seperti yang dikatakan dalam Bahasa Inggris: Love is blind (Cinta itu Buta). Karena tidak peduli lagi dengan hal-hal yang lain, kecuali yang dicintainya.
Tetapi bagi orangyang beriman tidak ada cinta yang paling utama kecuali cintakepada Allah SWT. Sebab orang-orang yang beriman itu sangat cinta kepada Allah SWT demikian dalam firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 165:
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka metihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal) “.
Perilaku seorang mukmin yang cinta kepada Allah dan RasuI-Nya dapat dilihat dalam kesehariannya, dengan sifat-sifat yang baik sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya laki-laki dan perempitan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS.Al-Ahzab:35)
Ayat Allah ini menggambarkan sifat-sifat yang baik dalam rangka menggapai ampunan dan balasan yang berlipat ganda dari Yang Maha Kuasa.
Akhirul kalam, jika kita benar-benar mencintai Allah SWT, niscaya Allah SWT akan meridhai kita. Dan indikasi cinta kepada Allah SWT adalah mengikuti Nabi SAW, sebab beliau adalah panutan kita. Firman Allah SWT: “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS.Ali-Imran: 31)
Sumber : Lembar Risalah An-Natijah No. 33/Thn. XIII - 15 Agustus 2008
Jadi pantas, jika seseorang jatuh cinta terhadap sesuatu maka ia pun rela berkorban dan berjuang untuk menggapainya. Namun cinta yang paling diprioritaskan adalah mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya Kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya diwujudkan dalam bentuk kepatuhan dan ketaatan yang tidak “neko-neko”.
Dalam hadits Qudsi Allah SWT berfirman: “Mereka yang berteman satu sama lainnya karena Aku, berhak memperoleh cinta-Ku, dan mereka yang saling membantu antara sesamanya karena Aku berhak memperoleh cinta-Ku. Dan tiadalah seorang meslimin laki-laki atau wanita berserah diri karena Allah atas kematian tiga orang dari anak kandungnya yang belum dewasa, pasti Allah memasukannya ke dalam surga yang dilimpahi karunia rahmat-Nya” (HR.Thabrani).
Mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya adalah paling mulia ketimbang yang lain, tetapi bukan berarti tidak bdeh mencintai sesuatu (selain Allah SWT). Sebab manusia ingin memiliki sesuatu dengan rasa cinta. Firman Allah SWT:
“Katakanlah: ‘Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, dan (dari) berjihad dijalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya’. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” (QS.At Taubah: 24).
Ayat ini menggambarkan kepada manusia, bagaimana menghadapi dan menyikapi kedelapan hal yang dicintai yaka Orangtua, anak-anak, isteri, saudara-saudara, keluarga, harta, perniagaan dan tempat tinggal.
Demikian juga dalam Al Qur’an Surat Ali Imran ayat 14: “Dijadikan indah pada (pandang-an) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga) “. Jika semua hal itu dicintai lebih dari pada Allah SWT dan Rasul-Nya serta jihad di jalan Allah maka tunggulah akibatnya. Juga diingatkan kepada manusia bahwa semua itu adalah merupakan kesenangan dunia, yang sifatnya sementara yang tidak bisa dibawa ke alam baqa. Di sisi Allah SWT-lah tempat kembali yang abadi.
Cinta Kepada Sesuatu
Jika seseorang cinta kepada sesuatu, maka ingatan dan pikirannya tertuju terhadap apa yang dicintainya itu. Lagi-lagi cinta memang seperti yang dikatakan dalam Bahasa Inggris: Love is blind (Cinta itu Buta). Karena tidak peduli lagi dengan hal-hal yang lain, kecuali yang dicintainya.
Tetapi bagi orangyang beriman tidak ada cinta yang paling utama kecuali cintakepada Allah SWT. Sebab orang-orang yang beriman itu sangat cinta kepada Allah SWT demikian dalam firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 165:
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka metihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal) “.
Perilaku seorang mukmin yang cinta kepada Allah dan RasuI-Nya dapat dilihat dalam kesehariannya, dengan sifat-sifat yang baik sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya laki-laki dan perempitan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS.Al-Ahzab:35)
Ayat Allah ini menggambarkan sifat-sifat yang baik dalam rangka menggapai ampunan dan balasan yang berlipat ganda dari Yang Maha Kuasa.
Akhirul kalam, jika kita benar-benar mencintai Allah SWT, niscaya Allah SWT akan meridhai kita. Dan indikasi cinta kepada Allah SWT adalah mengikuti Nabi SAW, sebab beliau adalah panutan kita. Firman Allah SWT: “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS.Ali-Imran: 31)
Sumber : Lembar Risalah An-Natijah No. 33/Thn. XIII - 15 Agustus 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)